SICK BUILDING SYNDROME

Jangan dikira orang-orang yang bekerja di gedung-gedung tinggi itu selalu nyaman lho…karena ternyata sebagian dari mereka mengeluhkan rasa sesak napas, mata, hidung dan tenggorokan perih, sakit kepala, pusing, kulit kering dan gatal, sulit konsentrasi, mudah lelah. Keluhan tersebut hilang sesaat setelah meninggalkan kantor.  Hari ini saya diminta datang kesebuah gedung perkantoran di Jakarta untuk mendiskusikan masalah keluhan-keluhan tersebut yang dialami oleh sebagian karyawannya.  Keluhan sudah berlangsung satu tahun terakhir. Sebagai tenant sudah berulangkali menyampaikan keluhan tersebut ke pihak pengelola gedung tetapi tidak ada tindakan pasti untuk mengatasi keluhan tersebut. Kemungkinan besar pihak pengelola gedung tidak mengetahui bahwa para karyawan yang berada dalam gedung yang dikelolanya mungkin mengalami Sick Building Syndrome yang membutuhkan tindakan segera untuk mengatasinya.

Sick building syndrome adalah sekumpulan gejala yang timbul saat seseorang bekerja dalam suatu ruangan tertutup tetapi tidak bisa dijelaskan dengan pasti apa penyebabnya, keluhan bisa timbul di satu area tertentu atau diseluruh gedung dan gejala tsb hilang saat pekerja meninggalkan gedung tempat kerjanya.Sick building sydrome umumnya terjadi diperkantoran yang berada di gedung-gedung tinggi.

Penyebab Sick building sydrome tidak bisa ditentukan secara pasti, tetapi kombinasi dari beberapa faktor seperti suhu dan kelembaban yang tidak adekuat serta pencahayaan yang berlebihan atau kurang bisa berperan menimbulkan Sick Building Syndrome. Selain itu faktor-faktor berikut juga potensial menimbulkan Sick Building Syndrome :

  • Kontaminan kimia dari luar ruangan : asap knalpot kendaraan, asap pembakaran dari dapur,
  • Kontaminan kimia dari dalam ruangan : berasal dari peralatan dan bahan-bahan yang ada dalam gedung seperti karpet, lem dan pelapis mejadan kursi kerja, bahan pembersih, pestisida, asap rokok, mesin fotocopy, printer.
  • Kontaminan biologi : pollen, jamur, spora, bakteri bisa tersembunyi di karpet, gorden, digenangan air AC,saluran air. Kontaminan biologi bisa menimbulkan demam, dada sesak, batuk, nyeri otot dan reaksi alergi. Bakteri Legionella yang berbiak didalam air AC bisa menimbulkan Demam Pontiac dan penyakit Legionairre.
  • Ventilasi yang tidak adekuat berkaitan dengan rendahnya velocity atau rendahnya kecepatan aliran udara didalam ruangan. Velocity yang kurang akan menyebabkan ruangan terasa pengap karena sirkulasi udara segar ke dalam ruangan kurang.

Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memastikan Sick Building Syndrome diantaranya adalah :

  • Melakukan pengukuran Indoor Air Quality untuk memastikan kualitas udara dalam ruangan sebagai dasar untuk memperbaiki sistem ventilasi.
  • Mencari sumber kontaminan, misalkan : adakah karyawan yang merokok dalam ruang kerja, penggunaan bahan-bahan pembersih ruangan, penyimpanan bahan-bahan yang kimia untuk kebersihan yang mudah menguap.
  • Perawatan karpet secara rutin untuk menghindari tumbuhnya tungau, jamur serta bakteri
  • Periksa area-area yang mungkin lembab dan berisiko tumbuh mold (jamur) seperti area pantry dan toilet.
  • Cek perawatan AC central apakah dilakukan secara rutin setiap 3 bulan.
  • Cek AHU – Air Handling Unit apakah ada kebocoran
  • Cek ducting nya
  • Cek roof surface mungkin banyak debu tertimbun di sana.

Jika anda dokter yang berpraktek  klinik di sebuah gedung perkantoran dan kunjungan terbanyak kasus alergi, asma, sakit kepala, fatigue yang berulang-ulang ada baiknya anda pikirkan kemungkinan pasien anda mengalami Sick Building Syndrome .

Sumber : www.nsc.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *