MENJADI JUARA

“Jadi Dok apakah semua dokter sudah tahu bahwa pertolongan pertama pingsan itu cukup dibaringkan kemudian ditinggikan tungkainya ? Karena waktu lomba Dokter Kecil dokter yang jadi juri masih mengharuskan pemakaian bau-bauan yang menyengat sebagai salah satu langkah untuk pertolongan pertama pingsan.Saya khawatir anak didik saya tidak menang kalau ikut lomba nanti”, kira-kira begitulah kalimat yang disampaikan oleh salah seorang guru yang menjadi peserta pelatihan P3K untuk Guru di Kota Semarang Sabtu kemarin.

Jawabannya rada panjang nih. Pingsan (bahasa Inggrisnya fainting) adalah hilangnya kesadaran sesaat karena kurangnya darah yang mengalir ke otak, umumnya terjadi karena ybs berdiri dalam 1 posisi dalam jangka waktu yang cukup lama (misal : upacara), jika ybs belum makan maka risiko untuk terjadinya pingsan menjadi lebih besar karena hipoglikemi (kadar gula dalam darah rendah). Mengapa begitu ? karena otak kita hanya membutuhkan oksigen dan glukosa, jadi kalau aliran darah ke otak kurang ditambah dengan hipoglikemia risiko untuk terjadi pingsan tinggi. Sebenarnya saat pingsan posisi berbaring itu menguntungkan bagi otak karena darah akan lebih mudah mengalir ke otak, supaya lebih cepat sadar maka pertolongan pertamanya cukup tinggikan tungkainya sekitar 20-30 cm. Beri udara segar. Nggak perlu di gosok balsem dan dipencet-pencet jempolnya. Nah, perlu nggak diberikan bau-bauan yang menyengat ? Sebenarnya dengan memahami fisiologi tubuh diatas pemberian bau-bauan tidak diperlukan. Artinya kalau nolong beneran sebenarnya praktis sekali caranya karena bau-bauan yang menyengat seperti amoniak belum tentu selalu tersedia dalam Kit P3K di sekolah. Kalau tersedia boleh nggak ? ya boleh-boleh saja, tetapi tujuannya bukan untuk membuat sadar tetapi untuk memastikan saja ybs sudah sadar atau belum.

Pertanyaan yang disampaikan oleh pak Guru tersebut sebenarnya adalah pertanyaan umum yang sering ditanyakan oleh para guru dan pelatih pertolongan pertama. Karena banyak sekali guru atau pelatih pertolongan pertama di sekolah mengajarkan berbagai teknik pertolongan pertama yang tujuan akhirnya untuk memenangkan perlombaan. Lupa dengan tujuan sesungguhnya belajar teknik pertolongan pertama adalah mengajarkan kepada anak untuk berani dengan percaya diri menolong sesama. Bukan sekedar memenangkan lomba. Tidak ada yang salah ingin menjadi juara, tetapi dalam pertolongan pertama juara yang sesungguhnya adalah yang berani menolong sesama dengan  percaya diri. Itu yang dibutuhkan oleh anak-anak kita, belajar berani dan percaya diri menolong. Jadi buat Bapak dan Ibu Guru serta para pelatih pertolongan pertama di sekolah latihlah anak-anak kita bukan hanya untuk lomba, tetapi berlatih untuk menolong sesamanya. Bagaimana dengan Jurinya ? Jurinya juga harus bijaksana dan selalu mengupdate pengetahuan tentang pertolongan pertama.

Foto dipinjam dari http://hrdailyadvisor.blr.com/2015/06/03/for-these-mad-men-to-get-to-the-top-they-must-climb-a-mountain/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *